Banyak pelaku di sektor minyak dan gas bumi (migas), khususnya hulu migas, berharap 2016 bisa menjadi titik balik (turning point) pemulihan bisnis mereka. Harapan ini sebenarnya realistis karena proyeksi ekonomi di 2016, baik global maupun domestik, cenderung lebih lebih baik dibanding 2015.
Namun, harapan tersebut tampaknya harus ditahan lagi setelah melihat berbagai perkembangan terakhir menjelang dimulainya 2016. Diperkirakan, 2016 masih akan menjadi tahun yang sulit bagi para pelaku sektor hulu migas.
Menjelang berakhirnya 2015, harga minyak di pasar global justru melemah. Dalam 2 minggu terakhir ini, harga minyak Brent maupun West Texas Intermediate (WTI) berada di bawah US$40 per barel.
Penurunan harga minyak ini terutama dipicu oleh keputusan Kongres Amerika Serikat (AS) pada 15 Desember yang mencabut larangan ekspor minyak yang di hasilkan oleh produsen minyak di AS. Pencabutan larangan ekspor ini menyebabkan pasokan minyak di luar AS melimpah sehingga mendorong penurunan harga.
Berdasarkan data dari Wood-mackenzei, selama 2015 produksi minyak OPEC bertambah sekitar 1,1 juta barel per hari (bph) dibanding 2014 dan menjadi sekitar 31 juta bph. Sebelum ada pengumuman dari Kongres AS, pada 2016, produksi mi nyak OPEC diperkirakan hanya bertambah sekitar 0,3 juta bph, yang berarti terdapat penurunan dalam supply minyak global.
Penurunan supply ini diharapkan dapat mendorong pemulihan harga minyak ke level yang lebih ‘moderat’. Namun, keputusan Kongres AS tersebut diperkirakan akan mengubah konstelasi pasar minyak. Yang harus dicatat, OPEC terutama Arab Saudi, tidak akan tinggal diam.
Arab Saudi di yakini akan berusaha untuk mempertahankan pangsa pasar minyaknya, terutama di Asia. Keputusan Kongres AS diyakini akan membuat persaingan di pasar minyak global menjadi semakin ketat. Produsen minyak AS akan mencari pasar di luar AS yang bisa memberikan harga yang lebih bagus. Kemungkinan pasar minyak yang dituju adalah Asia.
Perlu dicatat, penurunan harga minyak dalam kurun 1,5 tahun ini bukanlah disebabkan oleh berku rang-nya permintaan. Selama 2015, per -min taan minyak masih tetap tinggi. China yang pertumbuhan ekono mi nya selama 2015 mengalami ‘ rebalancing’ , ternyata tidak menu-runkan permintaan. Pertumbuhan minyak China selama 2015 tetap tinggi dan tertinggi di dunia, yaitu tumbuh se-ki tar 430 ribu bph dibanding pada 2014. Penurunan harga minyak selama 2015 ini, murni lebih dise-babkan oleh supply yang terlalu besar, teruta ma pasca-dieksploitasinya secara besar-besar-an shale oil di AS. Dibukanya kran ekspor minyak AS mendorong terjadinya persaingan ketat di antara produsen minyak, khususnya di pasar Asia.
Akibatnya, tujuan produsen minyak AS untuk mendapatkan harga yang lebih baik tidak sepenuhnya dapat diperoleh. Harga minyak (termasuk gas) berpotensi tidak bergerak naik, atau tetap berada di level rendah.
Situasi ini merugikan bagi produsen hulu migas di Asia, termasuk di Indonesia. Pendapatan mereka menjadi berkurang. Kondisi hulu migas ini pada akhirnya akan menimbulkan dampak turunan yang tidak sedikit.
Pertama, rendahnya harga migas akan mendorong kontraktor migas menurunkan aktivitas produksinya. Dan bila produksi migas turun maka pendapatan pemerintah dari sisi migas juga turun.
Kedua, rendahnya produksi migas menyebabkan stok bahan baku kilang minyak untuk memproduksi BBM juga berkurang. Akibatnya, kebutuhan BBM di dalam negeri harus di penuhi dari impor.
Dan ketiga, tanpa adanya insentif tam bahan dari pemerintah, situasi ini bisa menyebabkan kontraktor migas kehilangan gairahnya berinvestasi untuk kegiatan eksplorasi migas, khususnya untuk menemukan cadangan migas baru.
Beberapa perusahaan hulu migas di Indonesia, misalnya, sudah mengajukan permintaan adanya insentif tambahan sehubungan dengan rendahnya harga minyak mentah ini.
Salah satunya datang dari PT Pertamina (Persero), yang mengusulkan agar pemerintah memberikan insentif agar para kontraktor migas dapat terus mengembangkan lapangan migas yang dikelolanya. Terutama pada lapangan migas yang membutuhkan biaya operasi tinggi, seperti Blok East Natuna di Laut Natuna. Bentuk insentif yang diusulkan adalah dengan meningkatkan porsi bagi hasil bagi para kontraktor yang mengelola blok migasnya.
INVESTASI HILIR MIGAS
Tidak semua sektor migas dirugikan oleh turunnya harga migas ini. Sektor hilir migas justru diuntungkan. Rendahnya harga migas membuat biaya pengadaan BBM, BBG, dan bahan baku industri petrokimia menjadi lebih murah. Terlebih lagi, mulai 1 Januari 2016, pemerintah juga telah menerbitkan kebijakan untuk menurunkan harga gas bagi industri, terutama bagi industri pupuk.
Konsumen minyak di Indonesia terbesar di sektor transportasi, rumah tangga, dan industri (sekitar 87%). Sedangkan, konsumen gas terbesar ada lah sektor industri dan kelistrikan (85%).
Dengan turunnya harga mi gas berarti semakin memangkas biaya energi, yang membantu dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Namun, nilai tambah ini tidak akan dapat dimaksimalkan bila sektor hilir migas kita tidak siap.
Kilang minyak kita sebagian besar sudah tua dan tidak efisien. Kapasitas kilang minyak kita juga terbatas dengan tingkat kompleksitas produk yang juga rendah.
Saat ini adalah momentum yang tepat untuk menggenjot investasi di hilir migas. Langkah-langkah up grading kilang migas dan pembangunan kilang baru perlu dilakukan untuk mengurangi impor energi.
Pem bangunan infrastruktur gas, baik terminal liquefaction, terminal regasifika si, dan transportasi gas (pipanisasi) harus digenjot agar harga gas yang murah ini dapat dioptimalkan untuk memenuhi kebutuhan gas domestik.
Pemerintah sendiri telah menginisiasi sejumlah program percepatan pembangunan infrastruktur hilir migas, baik kilang, terminal gas, dan pipanisasi gas. Pemerintah berencana melakukan updgrading kilang minyak yang sudah ada dan akan membangun kilang minyak baru di Tuban Jawa Timur dan Bontang Kalimantan Timur.
Diperkirakan, sektor hilir migas ini akan lebih bergairah di 2016, di tengah sektor hulu migas yang diperkirakan masih lesu. Sektor hilir migas ini akan menciptakan manfaat turunan yang lebih luas, khususnya bagi industri domestik.
Bagi lembaga keuangan, khususnya perbankan, sek tor hilir migas dan turunannya ini juga cukup menjanjikan untuk di biayai. Sebagai negara pengimpor migas secara netto, Indonesia semestinya lebih diuntungkan dengan kondisi turunnya harga migas ini.
Namun demikian, sektor hulu migas juga tetap harus mendapat perhatian dari pemerintah. Sebab tanpa ada dukungan supply yang cukup dari hulu migas, sektor hilir migas juga tidak akan dapat berproduksi secara maksimal.
Pemerintah tampaknya memang per-lu memberikan sejumlah insentif agar sektor migas, khususnya hulu, tetap dapat berkembang di tengah kondisi sektor migas global yang sedang tidak kondusif.
*) SUNARSIP, Ekonom Kepala The Indonesia Economic Intelligence (IEI)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar